parental advisory
Home » » Tante Mia

Tante Mia

Diva (nama samaran), 24 tahun, Karyawati Swasta, Purwokerto :


Saat melintasi ruang tamu itulah telingaku mendengar suara mendesah di antara suara TV yang menyala. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik kaca ruang tamu yang tertutup korden tipis. Ya Tuhan! Di situ aku melihat Tante Mia tengah bersimpuh di depan seorang lelaki yang duduk di sofa. Celana jeans lelaki itu melorot hingga di kakinya dan Tante Mia yang setengah telanjang mengulum dengan buas “milik” lelaki itu ...


Ayahku adalah sulung dari 4 bersaudara. Saat ini ia tinggal di Wonosobo, Jawa Tengah, sebagai pensiunan pegawai negeri. Adiknya 2 lelaki (Om Beni dan Om Yudi, semuanya bukan nama sebenarnya) serta yang bungsu perempuan, Tante Mia (juga bukan nama sebenarnya). Usia Tante Mia hanya selisih 7 tahun lebih tua dari aku. Ia cantik, ditambah lagi hidungnya mancung seperti wanita Timur Tengah. Tante Mia kuliah di Bandung. Aku sendiri adalah bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakakku perempuan, sudah menikah dan tinggal di Wonosobo.

Waktu kelas 1 SMP, Tante Mia menikah dengan Om Joni (bukan nama sebenarnya), teman kuliahnya. Setelah menyelesaikan kuliahnya, mereka kemudian tinggal di Jakarta di mana Om Joni bekerja. Menurutku, Om Joni lumayan ganteng. Cocok kalau dapat istri secantik Tante Mia. Sementara aku, begitu lulus SMP di Wonosobo, aku melanjutkan SMA di Jogja. Semula aku kos di sebuah asrama putri dekat sekolahku. Setahun setelah tinggal di Jogja, Tante Mia yang tadinya tinggal di Jakarta, pindah ke Jogja mengikuti suaminya, Om Joni yang ditugaskan di kota Gudeg itu. Oleh ayahku, aku disuruh tinggal bersama Tante Mia, agar ada yang mengawasi dan membimbingku. Semula aku keberatan, namun karena Om Joni dan Tante Mia memaksaku, akhirnya aku pun menyerah pada keinginan mereka.

Tahun-tahun pertama tinggal di Jogja, Om Joni dan Tante Mia mengontrak sebuah rumah, yang menurut ukuranku yang berasal dari desa, tergolong mewah. Maklumlah, Om Joni dipercaya menduduki jabatan Kepala Cabang sebuah perusahaan swasta terkemuka yang berpusat di Jakarta. Meskipun awalnya menolak, tapi lama kelamaan aku betah juga tinggal di rumah Om Joni-Tante Mia. Apalagi aku menempati kamar yang lebih luas dari kamar kosku. Ada TV dan AC yang pula. Waah, senangnya ... Om Joni-Tante Mia benar-benar memperlakukan aku seolah aku anak kandungnya, karena hingga usia perkawinan mereka telah hampir 5 tahun, tapi tak kunjung mempunyai anak.

Hari demi hari berganti, tak terasa aku sudah menginjak kelas 3, semester 2. Aku pun mulai sibuk mempersiapkan diri mengikuti bimbingan belajar (bimbel) setiap hari Senin, Rabu dan Jumat sore agar bisa diterima di universitas negeri impianku di Jogja. Om Joni-Tante Mia lah yang membiaya bimbelku.

Suatu ketika, jadwal bimbel yang seharusnya hari Rabu sore dialihkan ke Kamis sore karena tentorku ada keperluan mendadak. Aku pun langsung pulang. Seperti biasa, untuk menuju kamarku aku harus melalui samping ruang tamu, karena ruang tamu selalu dalam keadaan terkunci, mengingat rumah kontrakan Om Joni-Tante Mia berada di kawasan perumahan baru yang masih rawan kejahatan. Saat melintasi ruang tamu itulah telingaku mendengar suara mendesah di antara sayup-sayup suara TV yang menyala. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik kaca ruang tamu yang tertutup korden tipis. Ya Tuhan! Aku memekik dalam hati. Di situ aku melihat Tante Mia tengah bersimpuh di depan seorang lelaki yang duduk di sofa. Celana jeans lelaki itu melorot hingga di kakinya dan Tante Mia yang setengah telanjang mengulum dengan buas “milik” lelaki itu ... Kepalaku serasa berkunang-kunang melihat adegan itu. Tante Mia ternyata berselingkuh. Dan ia bebas melakukan itu di rumah karena Om Joni sejak dua hari lalu dinas ke kantor pusat di Jakarta serta mengira aku sedang mengikuti bimbel. Tanpa pikir panjang aku segera pergi meninggalkan tempat itu. Saat itu aku benar-benar bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan. Dalam keadaan limbung akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toko buku di jalan Solo.

Sekitar jam 8 malam baru aku pulang. Seperti yang kuduga, lelaki selingkuhan Tante Mia sudah pergi, karena mereka pasti sudah memperhitungkan jam bubaran bimbelku. Ada rasa jijik ketika melihat Tante Mia waktu itu, tapi kupendam dalam-dalam perasaan itu. Rupanya Tante Mia membaca perubahan sikapku. “Kamu kenapa, Diva? Kok tumben kelihatan lesu,” tanyanya saat kami memulai makan malam. “Ah, aku agak nggak enak badan, Tante,” aku menjawab dengan agak tergagap. Aku lalu minta ijin padanya untuk membawa makan malam ke kamar, karena aku tak tahan harus bersandiwara seperti itu.

Sejak kejadian itu, aku jadi sulit berkonsentrasi. Di satu sisi aku merasa muak pada Tante Mia, tapi di sisi lain aku harus menghormatinya karena ia adalah adik kandung ayahku. Dan satu hal yang sangat mengganggu pikiranku adalah Om Joni. Aku merasa kasihan padanya. Bekerja keras untuk menafkahi istrinya tanpa mengetahui kalau istrinya telah mengkhianatinya. Hari hariku menjadi semakin berat karena aku harus menahan diri dan berpura-pura seolah tak ada apa-apa. Terkadang aku merasa letih harus menjalani hidup penuh kepalsuan seperti itu. Saat kelulusan SMA jadi terasa sangat lama, meskipun sebenarnya hanya tinggal beberapa bulan saja.

Aku bersyukur karena akhirnya aku lulus dan kemudian di terima di universitas negeri. Hanya saja aku tak mendaftar di universitas negeri di Jogja sebagaimana yang kuimpikan dulu. Aku memilih di Purwokerto untuk menghindari Tante Mia. Meskipun sudah tinggal jauh darinya, tapi ternyata pikiranku tentang Tante Mia tak juga sirna. Sejuta pertanyaan masih saja menggelayuti benakku. Kenapa Tante Mia tega melakukan itu, padahal dari segi materi ia sudah lebih dari berkecukupan? Sejak kapan ia mulai berselingkuh? Apakah sejak tinggal di Jogja atau sudah berlangsung ketika ia di Jakarta? Siapa lelaki yang jadi selingkuhannya itu? Bekas pacarnya? Tetangganya? Apa saja yang sudah dilakukannya bersama lelaki perusak rumah tangga orang itu?

Setiap lebaran aku selalu pulang ke rumah ayahku di Wonosobo. Karena ayahku adalah anggota keluarga tertua, maka semua keluarga besarku berkumpul semua di sana. Termasuk Om Joni-Tante Mia. Dan sejak lebaran pertama saat aku sudah tinggal di Purwokerto, aku selalu berusaha menghindari pertemuan dengan mereka. Begitu juga lebaran-lebaran berikutnya. Namun pada lebaran ke sekian (aku sudah lupa sebenarnya lebaran ke berapa) ada perubahan penampilan pada diri Tante Mia. Ia memakai jilbab dan sedang hamil 5 bulan. Kehamilan Tante Mia disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besarku, tapi tidak olehku. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu masih saja menghantuiku dan kemudian muncul tanya baru di benakku, sudah insyafkah Tante Mia? Anak siapa sebenarnya yang ada dalam kandungannya itu? Om Joni kah? Atau lelaki keparat itu?

Meskipun aku berusaha untuk bersikap masa bodoh, tapi rasa penasaran itu sulit kuhilangkan dari pikiranku, terutama ketika bertemu dengan mereka. (**)

4 komentar:

Poskan Komentar

Curpen (Curhat Pendek)

Cara Melepaskan Nafsu

Gimna ya cara membuat wanita menjadi nafsu melihat kita? (Arif, 19 tahun, Solok-Sumbar)


Aku ingin ML dengan gadis sunda tanpa kondom. ML seharian, di tepi pantai, dikeluarkan di dalam. Terakhir pernah dengan cewek bandung (sunda), tapi pakai kondom, sempitnya bukan main, gak kebayang gimana nikmatnya kalau tanpa kondom. (Bram, 32 tahun, Laki-laki, Jakarta)


Aku Kecewa

Ini sebuah kisah yang kuambil dari kehidupanku.

Jujur aku kecewa pada istriku. Semenjak menikah batinku tersiksa ... karena istriku tak mau aku ajak ML, padahal dulu sebelum menikah kami malah sering melakukannya.

Anehnya aku tak berani mencari gantinya. Sempat ada niat untuk selingkuh tapi rasa tak tega muncul di benakku ... (Bahy’, 26 tahun, Laki-laki, Jakarta)


Bingung

Hmmm!!! Aq bngung....org klo D̶̲̥̅̊ɪ̣̇ perkosa waktu umur 5 thn it sdh gak prawan Ľªªƍî ya..???maksud πƴǟª klo blm haid...??? (Supek Lope, Perempuan, Jambi)

Recent Comments


Pasangma